Cerpen Terbaru Indonesia 2018 : Jalan Cita Penuh Asa
“telolet, telolet, telolet” dering handphone pertanda masuknya
pesan singkat. Bantal kumel tertutup remangnya cahaya dalam ruangan ukuran tiga
kali empat tempatku beristirahat kubaca pesan singkat yang menerangkan jadwal
tes untukku pagi ini di sebuah yayasan ternama di tempat tinggalku. Berat mata
terbuka kupaksa segera bangkit untuk bersihkan diri menuju lokasi tes yang
cukup jauh dari tempatku berdiri.
Kuda besi biru berlogo
tiga garpu ku aungkan di pojok teras, tak lupa fiber berbalut busa kusarungkan
di bagian tubuhku teratas guna keselamatan bagiku dalam perjalanan. Perlahan
kutarik genggaman tangan kananku, kumulai lajuku menyusuri tepian hitam menuju
medan uji bagiku untuk memenuhi hajatku menuju kehidupan yang lebih makmur
dalam abdian sejati mejadi sosok tanpa tanda jasa di bumi pertiwi.
Lirikan mentari dari
timur menjadi teman sejati rayuan nyiur yang melambai memberikan senyuman
semangat untukku melaju medan berbalut lapisan hitam. Titian kuda besiku halus
tanpa karang penghalang, sampai pada titik daki yang memberatkan nafasnya
bersuara sehingga harus menghentikan lajuku. Kubelai dan kusentuh perbagian
dari tubuh kuda besi biruku tak kutemukan hal aneh yang terasa, akan tetapi
kini kuda besi biruku tak mampu untuk kembali berlari. Gundah hati terasa saat
ku tatap kejaran detik waktu yang terus bersemangat melaju gembira dalam
ketidakmampuan kuda besi biruku untuk meneruskan jelajahnya.
Karet mentah yang
mengalir melalui parit kecil buatan tuannya menjadi saksi ketidakmampuanku
untuk bergegas menuju tempat sasaranku. Dasar hitam bergaris tipis sebagai
motif yang membalut tubuhku bagian bawah terdapat ruang kecil yang terisi petak
kecil alat komunikasi kuno yang kumiliki. Jemariku berkelana memasuki rongga
kecil penyimpanan alat komunikasiku dan ku tekan sebuah tombol tanda
menghubungi salah seorang petugas tes.
“Hallo ?” Ungkapku saat telephone terhubung
“Iya hallo, ada yang bisa saya bantu?” Jawab salah satu petugas yang
kuhubungi yang banyak orang memanggilnya dengan nama Bu Lola.
“Bu ini Uda” Jelasku pada Bu Sri
“Iya Uda, kenapa?” Sahut Bu Sri
“Bu maaf bu, mungkin Uda agak telat tiba ke lokasi tes, karena kendaraan
saya mengalami masalah kecil” terangku pada Bu Lola yang merupakan salah
satu petugas tes
“Iya gak apa-apa, pelaksanaan tesnya juga mungkin masih sekitar satu jam
lagi, tapi kamu kalau bisa bergegas kemari menggunakan angkutan lain jika
kendaraan kamu mengalami masalah, karena jika telat selama lima belas menit
maka kamu dianggap mengundurkan diri” Jelas Bu Lola kepadaku
“Iya bu segera saya akan tiba kesana sekitar tiga puluh menit lagi”
Usahaku meyakinkan
“Yaudah kalau begitu, kami tunggu kehadiranmu” Ungkap Bu Lola
Lepas telephon dan
penjelasan salah satu petugas membuatku sedikit merasa tenang dan segera
kuhubungi saudara iparku yang tempat tinggalnya tak jauh dari tempatku berdiri.
Cepat saja saudara iparku mengajak bertukar kendaraan dan segera kulanjutkan
perjalananku menuju lokasi tes.
Gedung hijau berlapis
warna jeruk menjadi tujuan akhir perjalanan ini. Kulangkahkan kaki ini menuju
ruang berpintu kaca, yang dilapisi oleh jeruji besi yang menjaga keamanan pintu
itu. Kugerakkan tanganku menyentuh pintu kaca seraya berucap “Assalammualikum, permisi” dan kubuka
pintu itu dengan senyuman. Tampak barisan monitor komputer yang dikawal oleh
barisan meja kayu yang tersusun rapi dengan pengatur suhu pendingin yang
banyak. Kududuk dan kuhadapi setiap baris soal serta baris tantangan yang
disediakan panitia dengan berpasrah aku kepada sang khalik.
Pekerjaan yang baik akan
kuraih dengan sulit. Kalimat ini cukup pantas untukku yang sudah kali kedua aku
tes di tempat ini pada posisi yang sama. Hanya saja pada saat keli pertama aku
tes, aku tak memenuhi passinggrade sehingga aku harus pulang dengan tangan
kosong, tapi kali kedua ini berbicara lain, karena aku setelah mengikuti tes,
aku diberi informasi bahwa aku lulus. Hal ini sangat membuatku bahagia.
Kebahagiaan yang kurasa
bukan karena pekerjaannya akan tetapi ada hal lainnya. Tujuan aku bekerja di
masa lajangku adalah agar aku dapat segera mengumpulkan receh guna meminang
pujaan hatiku. Lama aku bekerja namun, keraguan aku untuk meminang pujaan hati
makin berat. Akan tetapi setelah aku bekerja di tempat baruku, keraguan yang
ada di dalam hatiku kian menghilang, kini kuyakini pernikahannku makin dekat
dan makin terasa atmosfir keluarga kecil yang impikan selama ini.
“Cerita
ini hanyalah cerita fiktif belaka,
jika
terdapat kesamaan nama, karakter, dan situasi
hal
tersebut hanyalah kebetulan dan tidak terdapat unsur kesengajaan”
